Kediri, 25 April 2016
Sebagaimana kita ketahui bahwa setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini oleh seluruh Bangsa Indonesia. Demikian juga di Kota Kediri. Tetapi perayaan kali ini berbeda dari perayaan biasanya, bahkan berbeda pula dengan perayaan di kota lain. Kali ini perayaan Hari Kartini dilaksanakan pada tanggal 25 April yang bertempat di GOR Jayabaya Kota Kediri dengan berbagai lomba seperti lomba cerdas cermat, lomba memasak, lomba bazar, dan lan-lain. Selan lomba-lomba tersebut, acara terbesar kali ini adalah pemecahan rekor MURI dalam jumlah terbanyak perempuan berkebaya di seluruh Indonesia. Acara tersebut dilaksanakan mulai pukul 08.00 s.d pukul 17.00 WIB.
Acara ini tidak hanya diikuti oleh Bapak Wali Kota Kediri Abu Bakar dan Wakil Wali Kota Kediri Ning Lik.
Usaha yang dilakukan pemerintah Kota Kediri sangat luar biasa dalam usaha memecahkan rekor MURI tersebut. Mulai dari persiapan tempat yang sempat berubah, sampai dengan publikasi. Publikasi yang dilaksanakan mulai dari pemasangan spanduk, baliho, brosur dengan tag “Perayaan Hari Kartini” yang dilengkapi dengan keterangan dan tanggal pelaksanaannya. Acara pemecahan rekor MURI dimulai pukul 11.00. Bagi warga perempuan yang sudah datang, bisa mengambil nomor peserta di panitia acara untuk dipakai. nomor urut ini untuk menentukan urutan catwalk yang harus ditempuh untuk memecahkan rekor. Diujung arena catwalk sudah ada juri yang menilai apakah kebaya yang dipakai sudah memasuki standart yang dimiliki juri untuk memecahkan rekor. Pada akhirnya acara selesai dengan luar biasa, dan Kediri berhasil memecahkan rekor muri menggunakan kebaya dengan perhitungan juri 11.029 orang.
Mengapa perayaan Hari Kartini identik dengan kebaya? Saat mendengar perayaan Hari Kartini, yang terlintas dipikiran adalah Kebaya. Kebaya adalah blus tradisional yang dikenakan oleh wanita Indonesia yang terbuat dari bahan tipis yang dikenakan dengan sarung, batik, atau pakaian rajutan tradisional lainnya seperti songket dengan motif warna-warni. Seperti yang terlihat di foto Kartini, beliau mengenakan Kebaya seperti halnya pakaian wanita ningrat Jawa masa lalu. Sebagai pakaian yang melekat di tubuh Kartini ketika berjuang meraih kemerdekaan perempuan, kebaya dianggap sebagai simbol perjuangan itu. Jadi alasan mengapa Hari Kartini identik dengan Kebaya adalah, sebagai rasa terimakasih wanita untuk pahlawan emansipasinya.
Raden Ajeng Kartini sendiri adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kita dengan segala cita-cita, tekad, dan perbuatannya. Ide-ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi. Bagi wanita sendiri, dengan upaya awalnya itu kini kaum wanita di negeri ini telah menikmati apa yang disebut persamaan hak tersebut. Perjuangan memang belum berakhir, di era globalisasi ini masih banyak dirasakan penindasan dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan.Itu semua adalah sisa-sisa dari kebiasaan lama yang oleh sebagian orang baik oleh pria yang tidak rela melepaskan sifat otoriternya maupun oleh sebagian wanita itu sendiri yang belum berani melawan kebiasaan lama. Namun kesadaran telah lama ditanamkan kartini, sekarang adalah masa pembinaan.
Antusias warga kediri dalam penyambutan Hari Kartini

0 komentar :
Posting Komentar